01 December 2015
Ivan & Suyenni - LIMA CAFÉ, Kolaborasi Desain Interior dan Desain Produk

 

 

IMG 0332

Ivan Christianto - Desain Produk 2005, SOD

Suyenni - Desain Interior 2005, SOD

LIMA merupakan sebuah Resto dan Café yang memiliki desain unik karena memiliki konsep yang orisinil sesuai karakter pemiliknya, desainer muda alumni UPH: Suyenni (Desain Interior 2005) yang berkolaborasi dengan Ivan Christianto (Desain Produk 2005) sebagai product designer. Nama LIMA diambil dari nomor Ruko dimana bangunan LIMA berada, yaitu di Ruko Gold Coast Blok A No. 5, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Kedua alumi ini diundang untuk membagikan pengalaman mereka kepada adik-adik kelasnya di Fakultas Desain UPH dalam acara Design & Entrepreneur Seminar, Sabtu/ 21 Mei 2014 lalu.

Suyenni menjelaskan berdirinya LIMA Café ini bermula dari sebuah mimpi memliki coffee shop kecil dengan konsep desain yang sesuai dengan karakter Suyenni sehingga pengunjung dapat menikmati hasil karya desainnya juga saat berada di LIMA Café ini. “Awalnya aku memang menargetkan LIMA Café ini untuk orang-orang dari ranah desain juga, sehingga mereka dateng kesini juga untuk cari ambience dan bisa appreciate karya desain disini”, jelas Suyenni. Setiap lantai dari LIMA Café memiliki konsep desain yang berbeda dan sustainable.

Lantai satu difokuskan untuk coffee shop dengan konsep design unik berbahan bekas. Beberapa material yang digunakan adalah seperti botol bir bekas, tabung Freon bekas, gulungan kabel dan lainnya. Beberapa produk yang cukup menarik adalah lampu gantung dari botol bir bekas dan tabung Freon bekas.

Lantai kedua dari LIMA Café didesain untuk acara seperti artspace dan toko kecil yang terdapat beberapa produk desain. Sedangkan lantai ketiga masih dalam tahap renovasi untuk studio kerja Suyenni dan dua lantai berikutnya akan terus dikembangkan kedepannya.

Konsep sustainable design ternyata membutuhkan biaya dan proses yang tidak mudah. ”Produk-produk yang dirancang dengan material barang bekas itu menarik ya, memang dari segi harga material dari barang bekas sangat murah, tapi proses pembuatan barang bekas ini yang sudah ‘jadi’ menjadi sesuatu yang baru dan bernilai kembali membutuhkan biaya yang cukup besar. Proses mengolahnya pun juga tidak mudah karena harus merombak struktur yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru” jelas Ivan.

Kepada peserta seminar, Suyenni dan Ivan juga membagikan pengalaman yang diperolehnya saat berkuliah di UPH. Keduanya mengakui banyak mendapatkan ilmu selama studi di Fakultas Desain UPH. Ilmu tersebut diterapkan dalam dunia profesional yang mereka jalani.


“Nilai terpenting dalam sebuah desain adalah proses, dan proses tersebut saya dapatkan saat masih berkuliah. Sama halnya dengan LIMA Cafe ini yang sudah melalui proses panjang dan akan masih terus di explore”, ujar Suyenni.


Pada akhir sesi, Suyenni dan Ivan menekankan bahwa dalam mendesain LIMA Cafe ini, setiap karya yang diciptakan tentu diharapkan memberikan dampak terhadap pengunjung. Mereka menekankan nilai kejujuran dalam mendesain sesuatu. “Idealis yang dituangkan dalam desain di LIMA Cafe ini adalah kejujuran. Jika ingin menghasilkan karya yang sustainable gunakanlah material yang benar-benar sustain seperti barang bekas asli, yang bukan dibuat-buat seperti kebanyakan orang lakukan. Gak perlu melulu ikutin trend diluar supaya orang suka, yang penting jujur dan melalui karya itu kita bisa mengedukasi orang”. (ca)