01 December 2015
Edy Wibowo - Semangat Menjadi Hakim yang Beritegritas

 

Edy Wibowo - Hukum 1996, UPH

Perayaan Dies Natalis XVII Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) menjadi momentum yang tepat dan berharga bagi segenap civitas akademika UPH untuk menyampaikan ucapan syukur atas berbagai kabar baik yang telah dialami dan diterima selama tujuh belas tahun terakhir. Hal ini juga dirasakan oleh salah seorang alumni FH UPH, Edy Wibowo, S.H., M.H. yang menjadi penerima penghargaan sebagai alumni yang mengharumkan nama almamater FH UPH. Dengan kerendahan hatinya Edy menyampaikan ucapan terimakasih atas penghargaan yang diberikan kepadanya dalam pidato singkatnya.

Sebagai seorang hakim di Tasikmalaya, Jawa Barat, tidak menjadikan Edy Wibowo melupakan almamaternya, Universitas Pelita Harapan. Edy Wibowo merupakan mahasiswa angkatan pertama FH UPH, penerima beasiswa, dan lulus pada tahun 2000.  Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke tingkat pasca sarjana di Universitas Indonesia lewat jalur beasiswa. Kegemarannya untuk belajar terus mendorong untuk suatu saat dapat melanjutkan studi pada jenjang S3. ”Melihat teman-teman saya sudah meraih gelar Doktor, rasanya ingin juga melanjutkan S3. Saya belum tahu institusi mana kelak yang akan memberikan beasiswa S3,” harapnya.

Dengan dorongan dari kedua orang tuanya, Edy secara murni berhasil menjadi calon hakim pada tahun 2001. Kariernya terus menanjak tidak hanya sebagai calon hakim, tetapi juga pernah merambah ke law firm dan perusahaan minyak asing. Pada akhirnya kembali menekuni profesi sebagai hakim, hingga dipercaya sebagai hakim di Pengadilan Negeri Tasikmalaya.

Dalam pidato singkatnya, ia menyampaikan sebuah kutipan Lord Acton yang diketahuinya dari Prof. Bintan semasa kuliah, “Power tends to corrupt, and absolut power corrupts absolutely.” Menurutnya, hal ini relevan dengan orasi yang telah disampaikan John Riady, dimana Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sedang marak-maraknya terjadi saat ini. “Selain kemampuan, etika dan moral adalah hal yang penting dalam pendidikan tinggi,” jelasnya menjawab masalah KKN yang sedang merajalela ini. Bangsa ini harus membentuk watak, dengan tujuan untuk membentuk akhlak yang mulia. “Kemampuan akademis sangat penting, tapi lebih dari itu, yang harus diperhatikan bangsa ini adalah semakin berkurangnya moral,” tegasnya.

Maka dari itu, Edy menyampaikan bahwa ia bangga menjadi alumnus UPH dengan selalu mencantumkan predikatnya sebagai dosen tetap UPH dalam setiap tulisannya, sebagai ucapan terima kasihnya kepada UPH karena telah berhasil mendidiknya hingga saat ini. Ia juga terkesima dengan apa yang telah dicapai UPH. “UPH itu luar biasa, karena walaupun sebenarnya didesain untuk fokus pada hukum bisnis, ternyata UPH juga sukses dalam bidang moot court,” ungkapnya diikuti tepuk tangan hadirin.

Menutup pidato singkatnya dalam perayaan Dies Natalis ini, Edy mewakili para alumni menyampaikan, “Kami sebagai alumni sangat berbangga bahwa UPH sekarang maju pesat, dari segi fasilitas dan semua sangat maju.” Ia berpesan bagi para mahasiswa bahwa mereka harus jauh menjadi lebih hebat. “Yang membedakan kalian dengan mahasiswa yang lain adalah bahwa kalian punya fasilitas yang lengkap. Itu yang harus dimanfaatkan dengan optimal dan sebaik-baiknya,” tegas Edy kepada mahasiswa yang hadir dalam acara ini. Ia berharap agar dari Karawaci datang kejayaan, “From Karawaci comes glory,” tutupnya dan disambut dengan tepuk tangan riuh hadirin. (ym)