01 December 2015
Mellisa Sugianto - Founder Nanny's Pavillon

Mellisa Saputra Winata - Manajemen Perhotelan 2001, STPPH

”Yang membuat saya suka UPH, Kampusnya bagus, tamannya besar, lingkungannya bersih, berkelas dan pergaulannya baik. Membuat saya nyaman belajar. Orang tua saya juga cocok. Bukan hanya itu, pelajarannya juga sangat baik. Praktek masak merupakan kegiatan yang paling saya suka. Apalagi sekarang sudah punya fasilitas yang lebih lengkap dan proper.”  

Pernah dengar nama resto ‘Nanny’s Pavillon’? Resto ala western dengan menu utama pancake ini hadir dengan konsep yang unik di setiap gerainya. Sesuai namanya, resto ini menawarkan suasana kehangatan rumah.Siapa sangka kalau founder dan ownernya adalah ibu muda, 32 tahun, lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Pelita Harapan. Kisah suksesnya tentu menarik untuk dibagikan kepada para alumni. Berikut bincang-bincang Alumni Relations UPH dengan Mellisa Saputra Winata, Menejemen Perhotelan 2001 STPPH. Berawal dari hobi masak yang diturunkan ibunya, Mellisa memilih masuk sekolah kejuruan tata boga. Sang ibu juga yang mencarikan sekolah lanjutan yang tepat untuknya, Sekolah Kejuruan Tata Boga Santa Maria. Di sekolah inilah keterampilan memasaknya mulai diasah. Lulus dari SMK ia memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang spesifik di bidang kuliner. ”Awalnya saya tidak tahu STPPH. Saya mencari sekolah yang benar-benar fokus ke bidang yang saya suka. Waktu mama saya mengusulkan STPPH, saya coba mendaftar. Saya diterima dan diinterview dengan Pak Dewanta dosen pastry. Ternyata dosen yang mewawancara, langsung menawarkan untuk menjadi asistennya di kelas praktek. Kesempatan ini saya terima, karena praktek pastry sudah saya kuasai sejak di SMK,” kisahnya. Melihat kemampuannya di bidang pastry, membuat dosen di STPPH mengajukannya untuk ikut ke ajang kompetisi. Pak Dewanta dan Mam Ames dua dosen yang disebutnya aktif mendorong ia mengikuti berbagai kompetisi kuliner. ’ASEAN Skill Competition 2002’ merupakan kompetisi tingkat ASEAN yang pertama kali diikutinya dan tanpa disangka ia bisa masuk 3 besar. ”Sayangnya yang ikut ke tingkat internasional hanya 1 dan 2 besar. Tapi ini pengalaman pertama yang membuat saya lebih pede ikut ke kompetisi berikutnya seperti Lomba Masak Cipta dan Kreasi Bogasari, Black Box Culinary Challenge dan lomba dekorasi kue, semuanya berhasil juara 1,” kenangnya.

Sejak itu ia makin serius belajar di STPPH. Meskipun ada beberapa mata kuliah yang menurutnya kurang relevan dan tidak disukainya saat kuliah, tetapi ternyata ia akui ilmu tersebut terpakai juga di bisnisnya. Lulus dari STPPH ia ditanya dosen mengenai rencananya ke depan. Waktu itu ia sudah punya rencana untuk terjun ke dunia bisnis restoran sendiri yang bisa di-franchise. Meski demikian, sebelum terjun ke bisnis resto, beberapa pekerjaan pernah ia jalani mulai dari menjadi food stylist untuk majalah terbitan Gramedia hingga mengajar pastry privat untuk teman, dan bekerjasama dengan murid privatnya mendirikan bisnis kuliner. Resto Pancious di bilangan Permata Hijau menjadi bisnis kuliner pertama Mellisa. Tidak disangka respon customer sangat bagus. Bahkan ia sempat kebingungan karena pesanan mengalir terus sementara juru masak yang kurang. “Area yang aku tangani dalam bisnis resto ini mulai dari konsep resto, development menu, resep, hingga training tukang masak. Dari yang tidak bisa masak sampai bisa.Pancious waktu pertama dibuka sempet bikin saya stress karena order datang terus, sementara yang masak kurang,” katanya.

Karakter mudah bosan dan selalu ingin mencoba yang baru membuatnya berani memutuskan untuk menjual sahamnya di Pancious dan beralih membangun bisnis resto yang lain. Bisnis resto berikutnya pun sempat gagal. Sampai suatu ketika Mellisa diperkenalkan oleh ibunya dengan mitra yang mau menginvestasikan ruang usaha untuk dipakainya. Kesempat itu diambil untuk mewujudkan impian membuka resto dengan konsepnya sendiri. Muncullah ide resto dengan konsep keluarga bernama ’Nanny’s Pavillon’ di kota Bandung. Restoran yang dibuka tahun 2010 ini memang masih sepi pada saat tiga bulan pertama namun tanpa disangka selanjutnya respon customer luar biasa. Yang membuat orang suka berkunjung ke Nanny’s Pavillon tidak lain karena konsepnya yang unik. Satu lagi tips yang didapat dari kesuksesannya mengusung konsep Nanny’s Pavillon adalah ’cermat melihat pasar’. Dari pengamatan Mellisa, orang Indonesia masih berorientasi pada brand luar. Ini terbukti ketika orang melihat restonya, orang pikir ini franchise dari luar. Bahkan mereka kira ownernya lulusan dari Amerika. Padahal ini semua merupakan produk lokal. Bisnis restoran buat saya harus punya konsep. Makanya waktu diberikan tempat yang berlokasi di Bandung, saya puter otak mau dibikin apa ruang sekecil ini. Sampai akhirnya saya dapatkan konsep homey. Saya mengambil nama nanny=pelayan dan pavillon= rumah sederhana,” kata Mellisa saat ditemui di resto Nanny’s Pavillon (NP) cabang Plaza Indonesia. Hingga sekarang NP sudah memiliki 14 gerai dan masing- masing hadir dengan konsep yang berbeda. Konsep yang diusung di gerai Plaza Indonesia ini adalah ’Kimberly’s Room’ yang menghadirkan desain interior ala kamar seorang remaja putri lengkap dengan pernak-perniknya. Konsep ini berbeda lagi pada gerai NP yang berlokasi di Gandaria City, Pacific Place dan 11 gerai lainnya di Jakarta, Bandung dan Bali. Bahkan dalam waktu dekat, NP akan buka di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Dalam membangun bisnisnya, Mellisa berprinsip untuk mengerjakan apa yang ia suka. Karna passionnya di bidang kuliner maka memikirkan dan mengerjakan bisnis kuliner tidak pernah membuatnya bosan dan lelah. Iapun mengaku bisa berfikir lama untuk sebuah ide dan ia asik dengan dunianya. 


Dalam berbisnis, uang bukan segala-galanya. Kita harus punya ide (kreatif – red). Sekolah juga bukan segala-galanya. Lewat ilmu yang dipejari kita asah talent kita. Jadi yang terpenting harus punya ide dan talenta dalam diri. Setiap orang punya emas di dalam dirinya, dan itu harus terus di asah. Selanjutnya kerjakan apa yang anda suka.” 


”Pendidikan itu harus fokus. Kalau tujuannya mau bisnis kuliner, ya dalami ilmu yang diperlukan untuk bidang kuliner. Selanjutnya pelajari juga how to running business dan maintain the business. Belajar tidak melulu di sekolah. Saya banyak mendapat ilmu dari pengalaman. Sejak terjun ke dunia bisnis saya banyak bergaul dan belajar dari orang yang lebih senior, para pengusaha yang secara usia jauh lebih tua dan sudah lebih dulu sukses,” kata Mellisa. Prinsipnya pergaulan yang baik dapat meningkatkan kapasitas kita. Kalau kita tidak pernah keluar dan ketemu dengan orang sukses lain kita tidak akan bisa berkembang. Banyak pelajaran yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Sementara di dunia bisnis kita akan menemui situasi yang menantang untuk selalu kreatif dan antisipatif. Kreativitas yang dimiliki Mellisa tidak terlepas dari karakter haus akan pengetahuan. Menurutnya setiap orang harus haus akan pengetahuan. Seperti dirinya yang selalu merasa bosan. Selalu memikirkan dan mencari hal-hal yang baru. Karenanya bahaya kalau kita ada dititik nyaman dan berhenti disitu. ”Sukses bagi saya tidak ada ujungnya. Seperti ambisi, selalu mau lebih tinggi lagi. Kalau ditanya apakah saya sudah sukses, ya masih belum. Sukses saya kalau saya bisa memiliki bisnis franchise,” tegas Mellisa. (rh)