07 January 2015
Alumni Business Network, 12 December 2014
Alumni Business Network 2014: How to Get Funding for Your Business?

 

24 alumni UPH foto bersama dalam acara Alumni Business Network, di Penang Bistro, Kebon Sirih

 

UPH Alumni Center kembali menggelar Alumni Business Network dengan tema “How to Get Funding for Your Business?” pada 12 Desember 2014 di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta. Acara ini bertujuan untuk merangkul para alumni yang memiliki bisnis sendiri sehingga dapat saling bertukar informasi dan menjalin networking diantara para alumni. Acara ini merupakan kelanjutan dari acara Alumni Business Network (ABN) sebelumnya yang berjalan dengan sukses dan mendapatkan respon yang positif. ABN kedua ini menghadirkan dua pembicara yang juga alumni UPH yaitu Hansel Kusnawa, PT. Sidojodo, Alumni Manajemen 2003 dan Rama Datau, Chairman-President Indonesian Young Entreupreuner Association Jakarta (HIPMI). Sebanyak 24 peserta yang terdiri dari alumni angkatan 1998 hingga 2010 hadir dalam ABN yang kedua ini.

“Banyak alumni kita yang sudah banyak mulai bekiprah dalam dunia bisnis baik sebagai pengusaha ataupun profesional. Melalui acara seperti ini, tidak hanya menjadi ajang untuk alumni berkumpul melainkan juga untuk belajar, karena belajar bukan hanya di bangku kuliah saja, tetapi belajar justru jauh lebih banyak diperoleh dari networking. Oleh karena itu, kita adakan acara ini secara rutin dan rencananya Februari nanti kita akan adakan juga Alumni Professional Network”, jelas Budi Legowo, Vice President for External Coorporation & Business Development.

 

Hansel Kusnawa menceritakan bisnis keluarganya

dalam memperoleh permodalan

Hansel Kusnawa dari PT. Sidojodo berkesempatan membuka acara ini dengan menceritakan bisnis keluarganya dalam memperoleh permodalan. PT. Sidojodo merupakan perusahaan yang memproduksi jamu dan rempah-rempah yang dijual ke pasar tradisional maupun ke perusahaan lain (B2B). Pada awalnya, Hansel merupakan seorang profesional yang bekerja di perusahaan asuransi. Namun krisis ekonomi pada tahun 2008 berimbas kepada permodalan PT Sidojodo dan sang ayah jatuh sakit membuat Hansel harus berhenti dari tempat kerjanya untuk menggantikan sang ayah. 

 

Akhirnya, Hansel pun saat itu ‘terpaksa’ harus turun langsung kedalam perusahaan keluarganya sendiri dan dipercaya memegang bagian permodalan. Dengan modal nilai perkuliahan yang baik dan pengalaman bekerja dibidang keuangan, membuat Hansel percaya diri mengurus permodalan perusahaan keluarganya. Namun kenyataannya, Hansel yang sudah mempersiapkan laporan keuangan yang begitu detail dengan analisis yang tajam, tetap mengalami kesulitan memperoleh modal dari bank.

 

“Kesulitan yang saya paling rasakan saat itu adalah kepercayaan. Saya ke bank pertama kali waktu itu, mau bertemu dengan pimpinan bank tersebut, tapi tidak mudah, dan untuk kesekian kalinya saya ditolak oleh bank.” ujar Hansel. Dari sinilah Hansel mengerti bahwa berurusan dengan bank kita harus dipercaya dulu, karena bank itu adalah bisnis kepercayaan.

 

Ia menyampaikan bahwa attitude adalah hal terpenting dalam mengajukan permodalan kepada bank. Attitude yang dimaksud Hansel adalah be honest dan be humble. “Kalau kita mau mengajukan permodalan kepada bank ini sangat penting. Be honest, dengan data yang kita berikan kepada bank. Jangan pernah lakukan mark-up karena bank tidak akan percaya. Kita juga perlu mendengar dan memiliki sikap humble.”, jelas Hansel.

 

Kita juga harus jelas dan mengerti betul dengan segala data keuangan yang dimiliki, sehingga saat mengajukan permodalan kita benar-benar memahami segala aktivitas keuangan perusahaan kita sendiri. Hal yang juga tidak boleh terlupakan adalah personal touch, dimana kita perlu membangun relasi yang baik dengan bank.

 

Rama Datau menceritakan pengalamannya dalam

memperoleh permodalan dari networking

Sesi sharing kedua dibawakan oleh Rama Datau, Chairman-President dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ia membagikan pengalamannya dalam memperoleh permodalan dari networking. Satu hal yang dianggap Rama sangat penting dalam berbisnis yaitu Networking. “Sebagus apapun ide bisnis kita, kalau kita tidak punya networking akan sangat sulit untuk kita menjalankan bisnis kita dan juga mendapatkan funding”, jelas Rama. 

 

Saat itu, Rama yang baru ingin memulai bisnisnya kesulitan untuk mendapatkan permodalan. Disamping sang ayah yang tidak mengijinkannya untuk berbisnis sendiri, usaha yang baru akan dijalankan oleh Rama ini belum memiliki track record pendukung untuk memohon permodalan dari bank. Akhirnya, Rama memanfaatkan networking, dengan mengajukan ide bisnisnya ini kepada rekan kerja ayahnya.

 

Usaha yang dilakukan Rama tidak sia-sia, ada yang mempercayakan modal kepada Rama untuk menjalankan ide bisnisnya tersebut. Akhirnya bisnis Rama tersebut  berhasil dan memperoleh profit yang memuaskan. “Saat itu, saya masih berusia 30 tahun dan usaha baru saya tadi berhasil. Saya merasa berhasil sekali, dimana saya dipercaya menjalankan bisnis saya dengan modal dari rekan saya tadi dan bisa memberikan hasil yang memuaskan juga”, ujar Rama.

 

Pada sesi tanya jawab, dibahas mengenai bagaimana mendapatkan permodalan untuk perusahaan yang bergerak dibidang e-commerce. Rama menjelaskan ada banyak cara sebenarnya untuk mendapatkan sumber permodalan, salah satunya dengan mengikuti kompetisi-kompetisi yang diadakan investor-investor sebagai start-up, kemudian memperluas koneksi dan share ide bisnis kita kepada investor yang dianggap berpotensi. Hansel menambahkan juga bahwa memperoleh pengakuan dan kepercayaan penting untuk mempermudah memperoleh permodalan. Ia setuju dengan pernyataan Rama bahwa dengan mengikuti kompetisi yang diadakan oleh bank bisa memperoleh modal lebih mudah.

 

Dibahas juga mengenai tips bagaimana membuat proyeksi atau forecast bisnis yang baru akan dimulai untuk memperoleh permodalan. Kedua pembicara menekankan bahwa forecast tersebut harus realistis dan detail, karena pada saat menjalankan bisnis harus sesuai dan tidak boleh melenceng dari forecast tersebut. Hansel menambahkan bahwa disamping realitis dan detail semua data harus berdasarkan survey, sehingga bank pun bisa melihat bahwa kita benar-benar tahu dan siap menjalankan bisnis ini.

 

Usai sesi tanya jawab, peserta menyantap makan malam bersama dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjalin relasi diantara para alumni. Tidak lupa diadakan sesi foto bersama dan pembagian doorprize kepada para alumni. (ca)

Para peserta melakukan registrasi ulang

 

Kedua pembicara ABN 2: Rama Datau

dan Hansel Kusnawa